ANALISIS DAMPAK DARI PAPARAN RADIASI SINAR-X PADA
TUBUH MANUSIA
Oleh : Suweno (M0220089 Fisika)
suweno@student.uns.ac.id
Abstrak
Sinar-x merupakan salah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik yang mana hanya mempunyai panjang gelombang yang sangat pendek, yaitu antara berkisar 0,01 sampai 10 nanometer serta frekuensi yang berada di 1016 hingga 1021 Hz. Penggunaan dari sinar-x banyak dijumpai di dalam bidang kedokteran, salah satunya mendiagnosa penyakit atau gejala pasien yang dilihat berdasarkan hasil citra pada film, sehingga informasi dapat dikatakan akurat. Di sisi lain, terdapat beberapa dampak yang dihasilkan dari penggunaan sinar-x. Dampak yang dihasilkannya beragam, baik secara langsung maupun tidak langsung. Diantaranya, katarak, pendarahan, muntah, dan lain-lain. Banyaknya dosis radiasi sangat mempengaruhi besar kecilnya efek samping radiasi sinar-x. Sehingga, apabila terkena sinar-x yang berlebihan tentu akan mengakibatkan efek-efek tertentu. Namun, beberapa orang menganggapnya tidak ada dampak yang diakibatkan dari paparan radiasi sinar-x. Dengan begitu, adanya artikel ini dapat membantu mengedukasi tentang bahayanya paparan radiasi sinar-x terhadap tubuh. Metode yang digunakan untuk menganalisis paparan radiasi sinar-x dengan tinjauan literatur.
Kata Kunci : radiasi, sinar-x, elektromagnetik, dampak radiasi

1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Sinar-x merupakan pancaran gelombang elektromagnetik yang sejenis dengan gelombang radio, panas, cahaya, dan sinar ultraviolet dan memiliki panjang gelombang yang cenderung sangat pendek, yakni berkisar 10-8 hingga 10-11 m, tetapi memiliki energi yang sangat besar (Arizal, 2016). Sehingga, hal inilah yang menyebabkan mengapa sinar-x dapat menembus tubuh manusia. Pemanfaatan sinar-x sering digunakan di dalam bidang kedokteran, misalnya rontgen.
Dengan begitu, sinar-x memberikan manfaat untuk mendiagnosa suatu penyakit atau kelainan organ lebih awal dan lebih teliti dideteksi dengan menggunakan penerapan sinar-x. (Suyatno, 2008). Di sisi lain, selain berguna untuk meneliti suatu penyakit di tubuh manusia, ternyata terdapat dampak yang ditimbulkan akibat dari paparan radiasi sinar-x. Dampak yang ditimbulkan dibedakan secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini bergantung terhadap dosis dari radiasi paparan yang dikenakan pada tubuh. Namun, terdapat beberapa orang yang menganggap hal itu tidak berdampak cukup berarti. Untuk itu, perlu adanya edukasi untuk mengerti lebih mengenai dampak dari paparan radiasi sinar-x.
1.2 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan lebih mendetail mengenai dampak dari paparan radiasi sinar-x bagi tubuh manusia.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur (library research), yakni penelitian yang didasarkan pada pendapat-pendapat ahli dan hasil-hasil studi terdahulu.
3. Pembahasan
3.1 Pengertian Sinar-X
Radiasi merupakan pemancaran energi dalam bentuk gelombang atau pertikel yang dipancarkan oleh sumber radiasi atau zat radioaktif (Syahria et al., 2012). Sinar-x termasuk di dalam kelompok radiasi pengion yang mana berarti apabila terjadi adanya tumbukan dan menghasilkan partikel yang mengandung listrik atau ion maka menghasilkan ionisasi. Radiasi pengion yang sering digunakan di dalam bidang kedokteran, yaitu sinar-x, sinar gamma, dan radiasi pengion yang lain.(Khoiri, 2010).
Sinar-x merupakan pancaran dari gelombang elektromagnetik dengan energi yang cukup tinggi. Sinar-x dihasilkan dari aktivitas elektron yang memiliki kecepatan tinggi yang bersentuhan dengan logam. Oleh karena itu, elektron dan logam saling bersentuhan atau bertubrukan disertai dengan pelepasan energi yang mana dalam bentuk radiasi sinar-x. Faktor-faktor yang mempengaruhui energi radiasi salah satunya yaitu tegangan tabung sinar-x atau beda potensial antara anoda dan katoda. (Fakhrurreza, 2018). Maka dari itu, tidak heran apabila sinar-x dapat menembus tulang manusia dan logam. Hal inilah yang menyebabkan mengapa sinar-x sering kali digunakan dalam bidang kedokteran, seperti mendeteksi adanya penyakit atau kelainan yang terdapat di dalam tubuh.
Sinar-x sering kali dikenal dengan sebutan sinar rontgen. Hal ini disebabkan sinar-x ditemukan oleh Wilhelm Conrad tepatnya 100 tahun silam dan dikenalnya sifat radioaktivitas, serta penggunaan radiasi sebagai salah satu modalitas pengobatan penyakit kanker. Namun, tidak hanya digunakan untuk mengobati penyakit kanker, tetapi juga digunakan untuk mendiagnosa penyakit atau memotret bagian tulang, hati, dan lainnya khususnya yang perlu untuk dideteksi apakah terdapat suatu kelainan atau tidak (Suryani, 2018).
Sinar-x dihasilkan oleh pesawat sinar-x. Pesawat sinar-x memiliki arti bahwa suatu alat yang dapat digunakan untuk mendiagnosa dengan memanfaatkan sinar-x. Tabung akan mengeluarkan sinar dan diarahkan di tempat bagian tubuh yang hendak didiagnosa. Berkas sinar-x akan menembus bagian tubuh, tentu akan ditangkap oleh film. Sehingga, terbentuknya gambar bagian tubuh yang telah disinari. Perlu diketahui bahwa sebelum melakukan pengoperasian, pesawat sinar-x pastinya akan diatur sedemikian rupa untuk mendpatkan sinar-x yang diinginkan. (Wiharja & Abdul, 2019).
Proses penciptaan gambar ketika pemeriksaan kesehatan dengan menggunakan sinar-x dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantanyara bahwa tubuh manusia mempunyai susunan yang cukup rumit atau kompleks, bukan hanya mempunyai perbedaan khususnya tingkat kepadatan saja, melainkan dipengaruhi pula perbedaan unsur dari pembentuknya. Hal inilah yang menyebabkan adanya perbedaan pada tingkat penyerapan sinar-x. Diketahui bahwa tulang akan lebih banyak menyerap pancaran sinar-x apabila dibandingkan dengan otot maupun daging.
Akan tetapi, otot dan daging akan mengambil lebih banyak dibandingkan dengan paru-paru. Di samping itu, struktur organ yang terkena penyakit akan berbeda dengan daging dan otot dalam hal penyerapan sinar-x. Demikian pula dengan faktor usia, orang yang sudah berusia lanjut akan menyerap paparan sinar-x lebih sedikit dibandingkan dengan orang muda karena tulang yang mengandung kalsium akan lebih mudah untuk menyerap (Akhadi, 2011).
Dengan mengetahui beberapa faktor yang menyebabkan mudahnya menyerap sinar-x, tentunya terdapat risiko dari paparan radiasi sinar-x. Risiko paparan radiasi sinar-x dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan tubuh, rusaknya sel, gangguan pada pertumbuhan, dan dapat mengakibatkan kanker (Soeprijanto, 2016). Namun, tidak hanya itu saja, melainkan masih terdapat banyak dampak dari terpaparnya radiasi sinar-x.
3.2 Dampak Radiasi Sinar-X
Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang dalam bentuk panas, partikel atau gelombang elektromagnetik atau cahaya (foton) dari sumber radiasi (Sutapa, 2013). Radiasi sinar-x ketika menembus bahas atau materi maka terjadinya tumbukan atau bertemunya antara foton dengan atom yang mana menimbulkan adanya ionisasi. Karena inilah sinar-x termasuk radiasi pengion dan tentunya menimbulkan dampak radiasi terhadap tubuh (Hidayatullah, 2017).
Ada beberapa dampak yang ditimbulkan dari paparan radiasi sinar-x, yaitu stokastik atau efek tidak langsung dan non stokastik atau efek langsung ketika dosis melebihi ambang. Ciri-ciri khas efek stokastik, yaitu tidak mengenal dosis ambang, keparahannya tidak bergantung pada dosis radiasi, dan tidak adanya penyembuhan yang spontan (Utari et al., 2014). Maka dari itu, efek stokastik tidak mengenal dosis ambang karena sekecil apapun dosis radiasi yang diterima tidak akan menimbulkan kerusakan somatik maupun genetik (Sopandi & Salami, 2013). Selain itu, stokastik berkaitan dengan paparan dosis rendah yang terus menerus dan menyebabkan kerusakan somatik atau kanker dan cacat keturunan atau kerusakan genetik
(Elvinawaty, 2019).
Sedangkan, efek non stokastik adalah efek radiasi yang mana dampaknya bergantung pada dosis radiasi tersebut dan hanya akan muncul ketika dosis ambang sudah terlewati. Ciri-ciri efek non stokastik, diantaranya memiliki dosis ambang, berdampak ketika sudah terpapar radiasi, terdapat penyembuhan yang spontan (relatif terhadap tingkat keparahannya), efeknya tergantung dosis dari radiasi tersebut. Contoh dari efek non stokastik, seperti sterilitas, katarak, dan lain-lain.
3.3 Solusi Meminimalkan Paparan Radiasi Sinar-X
Radiasi dipancarkan dari sumber radiasi ke segala arah. Semakin dekat tubuh dengan sumber radiasi maka paparan radiasi yang diterima semakin besar. Paparan radiasi sebagian akan menjadi pancaran hamburan saat mengenai materi. Radiasi hamburan ini akan menambah jumlah dosis radiasi yang diterima. Paparan radiasi sinar-x dapat dikatakan suatu hal yang sangat penting dalam bidang kesehatan, terutama mendeteksi diagnosa suatu penyakit. Akan tetapi, perlu diketahui pula bahwa terdapat dampak yang ditimbulkan seperti yang tertera pembahasan di atas. Dengan begitu, sudah semestinya perlu adanya cara untuk meminimalisasikan dampak dari paparan radiasi sinar-x.
Untuk mencegah paparan radiasi tersebut dapat dilakukan dengan menjaga jarak pada tingkat yang aman dari sumber radiasi karena cara ini termasuk yang cukup efektik untuk mengurangi radiasi yang diterima (Aryawijayanti, 2015). Namun, tentunya tidak hanya dengan menjaga jarak saja, terdapat cara lain yang mungkin, seperti mengurangi dosis radiasi. Dosis radiasi merupakan banyaknya radiasi yang terdapat di dalam area radiasi tersebut atau jumlah energi radiasi yang akan diserap atau mungkin diterima oleh materi yang dilaluinya. Sehingga, dapat diambil kesimpulan bahwa semakin besar dosis yang diterima semakin besar pula dampak negatif yang terjadi, maka dampak negatif dari radiasi tersebut sebanding dengan jumlah radiasi yang diterima (Fauziyah et al., 2013).
Selain mengurangi dosis radiasi, dapat pula mengatasinya dengan menggunakan perisai pelindung. Perisai tersebut mengandung bahan yang efektif untuk mengurangi dampak paparan sinar-x, yiatu seperti kaca terkhusus partikel beta.
4. Kesimpulan
Sinar-x merupakan pancaran dari gelombang elektromagnetik dengan energi yang cukup tinggi. Radiasi sinar-x dihasilkan dari alat pesawat sinar-x. Maka dari itu, pesawat sinar-x sering kali digunakan untuk melakukan rontgen atau untuk mendiagnosa apakah terdapat suatu kelainan dan penyakit di dalam tubuh tersebut.
Paparan dari radiasi sinar-x memiliki dampak secara tidak langsung (stokastik) dan langsung (non stokastik). Efek stokastik berarti mengenali dosis ambang maka sekecil apapun dosis radiasi yang dosis radiasi yang diterima tentu tidak akan mempengaruhi kerusakan somatik maupun genetik. Sedangkan, efek non stokastik tidak bergantung pada dosis ambang. Untuk mengerti lebih mendalam, terdapat ciri-ciri efek non stokastik, antara lain memliki dosis ambang, berdampak apabila sudah terpapar radiasi, dan lainnya.
Meskipun, kedua hal tersebut berbeda dalam siklus efek sampingnya, tetapi masih saja memiliki dampak yang cukup merugikan. Umumnya, dampak dari paparan radiasi sinar-x sering ditemui, seperti kerusakan khususnya jaringan tubuh, rusaknya sel, katarak, dapat mengakibatkan kanker, serta masih banyak lagi. Dengan begitu perlu adanya cara untuk meminimalisasikan dampak dari paparan sinar-x dapat dilakukan dengan menjaga jarak pada tingkat yang aman dari sumber radiasi serta menggunakan perisai pelindung yang mana terbuat dari bahan seperti kaca yang dapat mengurangi dampak paparan sinar-x.